MELIHAT DARI DEKAT PINTU AIR UNTUK PERTAMBAKAN UDANG WACHYUNI MANDIRA
WACHYUNI MANDIRA, adalah suatu daerah pertambakan udang yang berada di daerah SUMATERA BAGIAN SELATAN. Posisi nya memang tidak jauh dengan laut atau pun pesisir dan dahulu adalah pertambakan yang masih tergabung dengan sebuah perusahaan paling bonafit hingga berjalannya waktu menjadi sebuah desa pertambakan udang, Wachyuni Mandira sampai pada bangunan megah, sebuah sistem bendungannya yang sudah terbilang modern dan secara otomatis air laut akan masuk ke saluran inlet-inlet yang menuju ke area pertambakan plasma (waktu masih sistem kemitraan) dan saat ini berubah menjadi mandiri.
Kembali ke sistem pintu air tersebut, kita akan kagum dan bertanya dalam hati .siapa perancang dan yang membangun pintu air yang panjang nya -+ 60 meter.dan bukan hanya satu bangunan saja yang ada,melain kan dua bangunan yang sama dan serupa.
Sistem dan cara kerja pintu tersebut terbilang semi otomatis karena tidak ada nya di sana montor penggerak yang terpasang di sana.
Daun pintu tersebut dapat terbuka bila debit air dari laut lebih tinggi dari saluran maininlet yang menuju ke area pertambakan di Wachyuni Mandira, Serta akan menutup kembali ketika air dari dalam lebih tinggi atau yang bisa kita sebut air surut kembali ke laut.
Dua bangunan pintu air tersebut terdiri dari 24 daun pintu per masing-masing bangunan.namun sungguh sangat di sayang kan kondisi nya saat ini beberapa pintu air tidak bisa beroperasi dengan normal karena ada beberapa faktor yang menjadi kendala nya, bahkan ada yang rusak karena termakan usia besi yang sudah pasti di akibat kan oleh korosi.
Gambar di atas adalah bangunan pintu air yang kedua ataupun secara fungsional nya menjadi pintu pendukung untuk mencukupi kebutuhan para petani tambak udang disana untuk penunjang budi daya udang pasti nya. Sudah wajar seperti nya jika pintu air ini di rancang 2 bangunan yang serupa. Karena berdasar kan data kependudukan thn 2018-2019 jumlah KK nya +-4600 yang terbagi menjadi 3 blok.
serta di pecah menjadi dua DESA saat ini. Namun secara sistem pengairan nya masih memakai satu alur dan memakai pintu DAM yang sama. Mudah-mudahan bangunan tersebut akan selalu kokoh dan tidak menjadi puing-puing sejarah yang meninggal kan banyak kisah.
Kembali ke sistem pintu air tersebut, kita akan kagum dan bertanya dalam hati .siapa perancang dan yang membangun pintu air yang panjang nya -+ 60 meter.dan bukan hanya satu bangunan saja yang ada,melain kan dua bangunan yang sama dan serupa.
Sistem dan cara kerja pintu tersebut terbilang semi otomatis karena tidak ada nya di sana montor penggerak yang terpasang di sana.
Daun pintu tersebut dapat terbuka bila debit air dari laut lebih tinggi dari saluran maininlet yang menuju ke area pertambakan di Wachyuni Mandira, Serta akan menutup kembali ketika air dari dalam lebih tinggi atau yang bisa kita sebut air surut kembali ke laut.
Dua bangunan pintu air tersebut terdiri dari 24 daun pintu per masing-masing bangunan.namun sungguh sangat di sayang kan kondisi nya saat ini beberapa pintu air tidak bisa beroperasi dengan normal karena ada beberapa faktor yang menjadi kendala nya, bahkan ada yang rusak karena termakan usia besi yang sudah pasti di akibat kan oleh korosi.
Gambar di atas adalah bangunan pintu air yang kedua ataupun secara fungsional nya menjadi pintu pendukung untuk mencukupi kebutuhan para petani tambak udang disana untuk penunjang budi daya udang pasti nya. Sudah wajar seperti nya jika pintu air ini di rancang 2 bangunan yang serupa. Karena berdasar kan data kependudukan thn 2018-2019 jumlah KK nya +-4600 yang terbagi menjadi 3 blok.
serta di pecah menjadi dua DESA saat ini. Namun secara sistem pengairan nya masih memakai satu alur dan memakai pintu DAM yang sama. Mudah-mudahan bangunan tersebut akan selalu kokoh dan tidak menjadi puing-puing sejarah yang meninggal kan banyak kisah.


